Uji Efektifitas Ekstrak Etanol Daun
Sukun (Artocarpus Altilis) Terhadap
Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Penyebab Keputihan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengertian sehat
menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975, sehat adalah suatu
kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial. Pengertian
tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut UU kesehatan RI No. 36 tahun
2009, Bab I Pasal 1 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara
sosial dan ekonomis.
Indonesia adalah negara tropis, yang sangat rentan
dihinggapi berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit yang
disebabkan oleh jamur. Saat ini terdapat lebih dari 100.000 spesies jamur
terdapat di alam bebas dan 500 spesies diantaranya diduga mennyebabkan penyakit
pada hewan dan manusia. Sekian banyak jamur tersebut diperkirakan 100 spesies
bersifat patogen terhadap manusia dan 100 spesies jamur hidup pada manusia
tetapi dapat menimbukan kelainan pada manusia bila keadaan menguntungkan untuk
pertumbuhan jamur tersebut (Sutanto, dkk, 2008:307-308). Masih banyak jenis
penyakit yang dapat mengganggu kesehatan, terutama penyakit yang disebabkan
oleh mikroorganisme yaitu bakteri, jamur, virus, atau parasit.
Keputihan atau Flour albus merupakan sekresi vaginatal
abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai
dengan rasa gatal di dalam vagina dan di
sekitar
bibir vagina bagian luar, kerap pula disertai
bau busuk dan menimbulkan rasa nyeri sewaktu berkemih. Keputihan dapat
disebabkan oleh berbagai hal, seperti
infeksi mikroorganisme yaitu bakteri, jamur, virus atau parasit (Shadine, 2009:1-3). Menurut BKKBN tahun
2009, di Indonesia sebanyak 75% wanita pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya dan 45%
diantaranya bisa mengalami keputihan sebanyak dua kali atau lebih (Nanlessy, 2013 http//ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/2175/1733).
Salah satu
bentuk infeksi jamur yang menyebabkan
keputihan
adalah jamur Candida
albicans (Shadine,
2009:3).
Candida albicans dianggap spesies
terpatogen dan menjadi penyebab utama kandidiasis. Jamur ini tidak terdapat di
alam bebas, tetapi dapat tumbuh sebagai saproba pada berbagai alat tubuh
manusia, terutama yang mempunyai hubungan dengan dunia luar. Kandidiasis mempunyai gambaran klinik
dengan variasi yang sangat luas, bergantung pada alat yang terkena, bersifat
akut atau menahun. Kelainan dapat berupa rangsangan setempat, reaksi alergi,
granuloma, atau nekrosis, baik mengenai satu alat ataupun sistemik dapat tampak kelainan
pada kulit, kuku, selaput lendir atau alat-alat
dalam. Kandidiasis dapat ditemukan pada semua umur, pria dan wanita, dan
mempunyai penyebaran di seluruh dunia (Suprihatin,
1982:6-10).
Penyakit
infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida
albicans dapat diobati dengan obat
antimikotika. Obat antimikotika yang sering digunakan seperti griseofulvin,
ketokonazol, mikonazol, nistatin dan lain-lain. Tetapi obat-obat kimia dapat menimbulkan
efek samping seperti kerusakan hati dan ginjal, reaksi alergi kulit, serta
gangguan lambung (Tjay dan Rahardja, 2007:103).
Obat kimia memang berefek samping karena zat tunggal
atau gabungan zat tunggal yang murni. Zat kimia murni tentu tidak cocok untuk
tubuh yang kompleks dengan regulasi reaksi-reaksi kimia tertentu. Obat yang
murni ini cenderung memodifikasi
reaksi-reaksi yang menyimpang atau berlebihan. Hal inilah yang menimbulkan efek
samping (Winarto, 2007:6). Selain dengan obat sintetik, keputihan dapat diobati
dengan pengobatan herbal (Shadine, 2009:30).
Menurut UU Kesehatan No. 39 Tahun 2009, obat
tradisional merupakan bahan
atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan
sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut
secara umum turun temurun telah
digunakan
untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Indonesia terdapat beranekaragam tumbuhan yang
berkhasiat sebagai obat. Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai alternatif
pengobatan dan memiliki khasiat untuk penyakit tertentu adalah daun sirih, daun
sirsak, daun salam dan daun sukun (Hariana, 2008:100)
Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan sebagai
antimikroba adalah sukun. Daun pada tumbuhan
ini dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan tradisional dan sering
digunakan masyarakat Indonesia sebagai obat sariawan dengan cara dihancurkan
lalu diletakan di lidah, dan rongga mulut yang terkena sariawan (Shabella, 2012:25-28).
Daun sukun mempunyai kandungan kimia antara lain
saponin, polifenol, tanin, asam hidrosianat, asetilkolin, riboflavin, flavonoid
(Wardany, 2012:44). Daun sukun tua mengandung flavonoid paling besar yaitu
100,68 mg/g, sedangkan daun sukun muda mengandung flavonoid sebesar 87,03 mg/g,
sementara daun sukun tua yang sudah menguning dan gugur mengandung flavonoid
sebesar 42,89 mg/g (Shabella, 2012:34).
Pada penelitian yang terkait yaitu ekstrak etanol daun
sukun mempunyai khasiat sebagai antimikroba terhadap bakteri dan jamur.
Kandungan kimia yang terkandung dalam daun sukun adalah polifenol yang telah
terbukti dapat digunakan sebagai antimikroba (Wardany, 2012:44).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yennie ayu
setyaningsih tentang ”efek ekstrak etanol
daun sukun (Artocarpus altilis) sebagai antimikroba” mendapatkan hasil pada
konsentrasi 0,60% ekstrak etanol daun sukun memiliki kemampuan daya hambat
minimum terhadap bakteri MRSA ( Methicillin-Resistant
Staphylococcus aureus) dan konsentrasi 0,70% memiliki kemampuan daya bunuh
minimum.
Melihat
potensi yang dimiliki daun
sukun, sebagai antimikroba dan
melihat kandungan yang terdapat dalam tumbuhan ini, maka peneliti ingin
melakukan penelitian yang memanfaatkan daun sukun. Dengan demikian peneliti
memberi judul ”uji efektifitas ekstrak etanol
daun sukun (Artocarpus altilis)
terhadap pertumbuhan jamur Candida
albicans penyebab keputihan”.
B.
Perumusan
Masalah
Latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah
ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus atlitis) efektif menghambat pertumbuhan jamur Candida
albicans penyebab keputihan ?
2. Berapa
konsentrasi yang efektif dari ekstrak
etanol daun sukun (Artocarpus
atlitis) dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans ?
C.
Tujuan
Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara
umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) dalam menghambat pertumbuhan
jamur Candida albicans penyebab keputihan.
2. Tujuan
khusus
Secara
Khusus penelitian ini bertujuan :
a.
Mengetahui
kemampuan ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab keputihan.
b.
Mengetahui
konsentrasi ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) yang paling
efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab keputihan.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat
bagi penulis
Menambah
pengetahuan serta mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama menjalani
perkuliahan di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjungkarang Jurusan
Farmasi khususnya dalam ilmu farmakognosi dan Mikrobiologi.
2.
Manfaat
Bagi Institusi
Penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi tentang efektifitas ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans.
3. Manfaat bagi Masyarakat
Penelitian ini
diharapkan mampu memberikan data sebagai informasi kepada masyarakat tentang
efektifitas ekstrak daun sukun
(Artocarpus altilis) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans.
E.
Ruang
Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang
Farmakognosi dan Mikrobiologi, dengan jenis penelitian
eksperimen uji efektifitas ekstrak etanol daun sukun terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab keputihan dengan konsentrasi 0.2%,0.4%, 0.6%, 0.8%, dan 1% untuk menghambat jamur Candida albicans. Pada penelitian ini menggunakan metode difusi
dengan cara Kirby Bauer, variabel bebasnya adalah konsentrasi ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis)
dan variabel terikatnya adalah daya hambat ekstrak
etanol daun sukun (Artocarpus altilis) terhadap pertumbuhn jamur Candida albicans. Penelitian ini dilakukan di
Balai Laboratorium Kesehatan Bandar lampung pada bulan
Juni 2014.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Sukun
Gambar 1. Tanaman sukun
Gambar 1. Tanaman sukun
(sumber: Dokumen pribadi)
Sukun
(Artocarpus altilis) termasuk dalam Moraceae alias keluarga Mulberry atau lebih sering dikenal
sebagai breadnut dan yang tanpa biji
disebut breadfruit. Sukun tergolong
tanaman tropik
sejati, tumbuh paling baik di dataran rendah yang panas. Tanaman ini tumbuh
baik di daerah basah, tetapi juga dapat tumbuh di daerah yang sangat kering
asalkan ada air tanah dan aerasi tanah yang cukup. Sukun bahkan dapat tumbuh
baik di pulau karang dan di pantai. Di musim kering, disaat tanaman lain tidak dapat
atau merosot produksinya,
justru
sukun dapat tumbuh dan berbuah lebat. Tidak heran, jika sukun dijadikan sebagai
salah satu cadangan pangan nasional ( Shabela, 2012:9).
1.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Urticales
Suku : Moraceae
Marga : Artocarpus
Spesies : Artocarpus altilis (Harmanto,
2012:14).
2.
Morfologi
tanaman
Pohon
sukun merupakan jenis pohon berkayu dan dapat mencapai tinggi hingga 30 meter.
Pohon sukun mempunyai batang yang lurus dan besar dengan akar papan (banir)
yang rendah dan memanjang. Pohon sukun yang sudah berumur biasanya tumbuh besar
dan memiliki penampakan yang tinggi besar serta batang pokok yang tegak. Bentuk
pohon yang bertajuk renggang, bercabang mendatar, dan berdaun besar-besar
tersusun selang-seling, mampu menahan air hujan sehingga pohon sukun juga
merupakan indikator keberadaan mataair (Shabella, 2012:17).
3.
Habitat
Sukun tergolong
tanaman tropik sejati, tumbuh
paling baik di dataran rendah yang panas. Tanaman ini tumbuh baik di daerah
basah, tetapi juga dapat tumbuh di daerah yang sangat kering asalkan ada air tanah
dan aerasi tanah yang cukup. Sukun bahkan dapat tumbuh baik di pulau karang dan di pantai (Shabela,
2012:9).
4.
Nama
Daerah
Tanaman sukun terdapat diberbagai wilayah Indonesia
dan dikenal dengan berbagai nama seperti Suune (Ambon), Amo (Maluku Utara), kamandi,
urknem atau baitu (Papua), Karara (Sumba dan Flores), Naunu (Timor), Hatopul
(Bata), Baka atau Bakara (Sulawesi Selatan), Sukun (Jawa) (Wardany, 2012:14).
5.
Khasiat
dan Kegunaan
Tanaman
Masyarakat
menggunakan daun sukun untuk mengobati penyakit liver, hepatitis, sakit gigi,
gatal-gatal, jantung, dan ginjal (Harmanto, 2012:21).
6. Karakteristik
Simplisia dan Kandungan Kimia
Hasil
pemeriksaan mikroskopis simplisia daun sukun adalah ujung yang menggulung, daun
berkerut, daun berseling, tepi bertoreh,
panjang 40-46 cm dan lebar 30-33 cm dan berwarna coklat kehijauan. Pemeriksaan
serbuk simplisia menunjukkan adanya stomata tipe anomositik, ramput penutup,
Kristal kalsium oksalat bentuk druse, kelenjar sekresi dan sistolit. Hasil skrining
fitofarmaka serbuk simplisia daun sukun menunjukkan adanya senyawa golongan
flavonoida, tanin, saponin,
steroid/triterpenoid, dan polifenol (Novita, 2011 http://repository.usu.ac.id/handle/). Flavonoida, tanin, saponin,
steroid/triterpenoid, dan polifenol diketahui memiliki aktivitas antimikroba
dengan mekanisme kerja yang berbeda-beda (Setianingsih, 2012 http://old.fk.ub.ac.id.). Daun sukun
tua mengandung flavonoid paling besar yaitu 100,68 mg/g, sedangkan daun sukun
muda mengandung flavonoid sebesar 87,03 mg/g, sementara daun sukun tua yang
sudah menguning dan gugur mengandung flavonoid sebesar 42,89 mg/g (Shabella, 2012:34).
B.
Keputihan
Keputihan atau Flour Albus merupakan sekresi vaginal
abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai
dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar,
kerap pula disertai bau busuk, dan menimbulkan rasa nyeri, sewaktu berkemih (Anolis,
2011:66). Keputihan
patologis terjadi karena disebabkan oleh jamur Candida albicans. Salah satu faktor penyebab keputihan adalah
pemakaian antibiotik dan kortikosteroid
yang lama (Sibagariang, dkk, 2009:63).
C.
Jamur Candida albicans
Jamur
Candida albicans
merupakan jamur yang menyebabkan penyakit
kandidiasis,
infeksi dapat akut, kronik, dan kelainannya dapat
superfisialis atau sistemik. Organisme
ini adalah bagian dari flora normal dari kulit, membran mukosa, dan traktus
gastrointestinal. Cara menginfeksinya yaitu endogen. Candida albicans membentuk sel ragi (sel
khamir) yang disebut juga blastospora, multiplikasi dengan membentuk tunas, tunas semu (pseudohyphae), dan juga hifa sejati (true hyphae) (Irianto,
2013:67).
1. Toksonomi Candida albicans
Kingdom :
Fungi
Filum :
Ascomycota
Subfilum :
Ascomycotina
Kelas :
Ascomycetes
Ordo :
Saccharomycetales
Famili :
Saccharomycetaceae
Genus :
Candida
Spesies :
Candida albicans (Hardjoeno,
2007:228).
2.
Morfologi
Sel jamur Candida berbentuk bulat, lonjong atau
bulat lonjong, dengan ukuran 2 – 5µ x 3 - 6µ hingga 2 – 5,5µ x 5 – 28,5µ,
bergantung pada umurnya. Koloninya pada medium padat sedikit menimbul dari
permukaan medium, dengan permukaan halus, licin atau belipat-lipat, berwarna
putih kekuningan dan berbau ragi. Besar koloni bergantung pada umur. Pada tepi
koloni dapat dilihat hifa semu sebagai benang-benang halus yang masuk ke dalam
medium. Pada medium cair jamur biasanya tumbuh pada dasar tabung. C. tropicalis membentuk gumpalan-gumpalan
kasar yang mengapung di dalam medium cair, sedang C. Krusei tumbuh dengan membentuk selaput tipis pada permukaannya
(Suprihatin;dkk, 1982:4-5).
Gambar 2.
Morfologi Candida albicans
3. Epidemiologi
Dalam genus Candida Sp. ini sampai
sekarang dikenal lebih dari 30 spesies, tetapi hanya beberapa saja yang dikenal
pada manusia dan hewan yaitu Candida
albicans, Candida
peseduotropicalis, Candida cruseui, Candida quilliermondi, Candida
parapsilosis, dan Candida stellatoidea. Candida albicans
ditemukan pada manusia di
seluruh
dunia, terutama menimbulkan penyakit pada golongan usia lanjut, kaum wanita dan
bayi (Irianto, 2013:70).
Candida albicans
pada tubuh manusia dapat bersifat dua macam,
yaitu sebagai saprofit yang terdapat pada tubuh
manusia tanpa menimbulkan gejala apapun, baik objektif maupun subjektif, atau sebagai parasit
yang dapat menimbulkan infeksi primer atau
sekunder terhadap kelainan lain yang telah ada (Irianto, 2013:70).
Sebagai
saprofit, Candida albicans pada tubuh
manusia dapat dijumpai di kulit, selaput lendir
mulut, saluran pencernaan, saluran pernafasan, vagina, dan kuku. Beberapa faktor predisposisi dapat
mengubah sifat saprofit Candida albicans
menjadi patogen, antara lain:
a.
Penggunaan
antibiotika yang dapat menekan pertumbuhan bakteri yang sensitif yang terdapat bersama-sama dengan jamur Candida albicans, disebut sebagai flora
biasa sehingga dengan demikian secara tidak langsung merangsang pertumbuhan Candida albicans.
b.
Penggunaan obat kortikosteroid dan stitostatik ini
mungkin karena khasiat antiinflamasi dan hambatan pertumbuhan antibodi.
c.
Kelembaban yang tinggi,
misalnya pada pakaian yang bersifat panas
(nilon, wol), pekerjaan yang selalu berhubungan dengan air, dan keringat yang
berlebih.
d.
Pemakaian pil anti
hamil dianggap berpengaruh dalam meningkatnya frekuensi kandidiasis.
e.
Dikatakan bahwa
kontrasepsi oral menyebabkan perubahan-perubahan
pseudogestasional pada epitel vagina sehingga pH vagina menjadi basa, tetapi penelitian
lain tidak dapat menunjukan perbedaan frekuensi kandidiasis dengan pemakaian pil atau
cara kb lain (Irianto,
2013:70).
4.
Patogenitas
Jamur Candida
Jamur Candida dapat hidup sebagai saprofit
atau sebaiknya disebut saproba, tanpa menyebabkan suatu kelainan apapun di
dalam berbagai alat tubuh baik manusia maupun hewan. Pada keadaan tertentu maka
sifat jamur dapat berubah menjadi patogen dan menyebabkan penyakit yang disebut
kandidiasis (Candidiasis) atau
kandidosis (Candidosis). C. albicans dianggap spesies terpatogen
dan menjadi etiologi terbanyak kandidiasis, tetapi spesies yang lain ada juga
yang dapat menyebabkan penyakit bahkan ada yang berakhir fatal (Suprihatin;dkk,
1982:5).
5.
Kandidiasis
Kandidiasis
adalah infeksi primer atau sekunder oleh genus Candida yang terutama adalah
Candida albicans. Manifestasi klinisnya sangat bervariasi dari akut,
subakut dan kronis ke episodik. Kelainan dapat lokal di mulut, tenggorokan,
kulit, kepala, vagina, jari-jari tangan, kuku, bronkhi, paru atau saluran
pencernaan atau menjadi sistemik misalnya septisemia, endokarditis dan
meningitis (Budimulja,dkk,2001:67).
a.
Klasifikasi
dan Gambaran Klinis
Berbagai jenis
kandidiasis mempunyai ciri khas yang bergantung pada alat-alat yang terkena.
Conant (1971) membagi kandidiasis sebagai berikut :
1) Kandidiasis selaput lendir, meliputi:
a) Kandidiasis
oral
Kadidiasis oral
disebut juga “Oral trush”, memberikan
gambaran klinis berupa stomatitis akut. Pada selaput lendir mulut tampak
bercak-bercak putih kekuningan yang timbul dari dasar selaput lendir yang merah
yang disebut membran palsu. Membran palsu ini dapat meluas sampai menutupi
lidah dan palatum mole. Lesi-lesi ini dapat juga terlepas dari
selaput ledir,
sehingga dasarnya tampak merah dan mudah berdarah ( Siregar, 2004:46-47).
b) Perlece
Kelainan tampak
pada kedua sudut mulut, yang terjadi perlunakan kulit yang mengalamierosi.
Dasarmya merah dan bibir menjadi pecah-pecah, kemudian tejadi fisura pada kedua
sudut mulut (Siregar, 2004:49).
c) Kandidiasis
vaginitis dan vulvovaginitis
Vaginitis karena
kandida selalu disertai oleh vulvovaginitis. Hal ini disebabkan terjadi kontak
langsung dari sekret-sekret vagina yang mengalami infeksi sehingga daerah vulva
ikut mengalami infeksi. Pada mukosa vagina terlihat adanya bercak putih kekuningan,
meninggi dari permukaan, yang disebut vaginal
trush (Siregar, 2004:49).
d) Kandidiasis
balanitis dan balanoptisis
Sering terjadi
pada pria yang tidak dikhitan, di mana glans penis tertutup terus oleh
preputium. Balanitis tampak berupa bercak-bercak eritema dan erosi pada glan penis dan sering
disertai dengan pustulasi
(Siregar, 2004:50).
e) Kandidiasis
mukokutan kronis
Biasanya banyak
ditemukan pada anak-anak dan penderita yang mengalami bermacam-macam
defisiensi. Kelainan-kelainan yang timbul berupa bercak-bercak merah pada
daerah-daerah mukokutan, erosi, dan pada perasaan timbul rasa panas dan gatal (Siregar, 2004:50).
D.
Pengukuran
Aktivitas
Antimikroba
Cara untuk pengukuran aktivitas
antimikroba dapat dilakukan dengan dua metode yaitu:
1. Metode Dilusi
Sejumlah
zat antimikroba dimasukkan ke dalam medium padat atau cair. Biasanya digunakan
pengenceran dua kali lipat zat antimikroba. Medium akhirnya diinokulasi dengan
organisme yang diuji dan diinkubasi. Tujuan akhirnya untuk mengetahui seberapa
banyak jumlah zat antimikroba yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan atau
membunuh organisme yang diuji (Jawetz, dkk, 2007:170).
2.
Metode
Difusi
Metode yang
paling luas digunakan adalah uji difusi cakram. Cakram kertas filter yang
mengandung sejumlah tertentu obat ditempatkan di atas permukaan medium padat
yang telah diinokulasi pada permukaan dengan organisme uji. Setelah inkubasi
diameter zona jernih inhibisi di sekitar cakram diukur sebagai ukuran kekuatan
inhibisi obat melawan organisme uji tertentu (Jawetz, dkk, 2007:170).
E. Antimikotika
Antimikotika
adalah obat-obat yang berdaya menghentikan pertumbuhan atau mematikan jamur
yang menghinggapi manusia (Tjay dan Rahardja, 2007:97). Obat-obat yang sering
digunakan untuk mengobati infeksi jamur antara lain golongan antibiotik,
derivat imidazol, derivat triazol, dan asam-asam organis. Obat golongan antibiotik
yang bekerja sebagai antimikotik salah satunya adalah nistatin.
Gamabar 3.Sruktur kimia
nistatin
(Sumber: chemicalbookhttp://www.chemicalbook.com/)
Nistatin
dengan struktur kimia C47H75NO17 dengan
pemerian serbuk, kuning sampai coklat,
bau khas dan kelarutannya sangat sukar larut dalam air, agak sukar larut
dalam etanol 95% dan dalam metanol, praktis tidak larut dalam kloroform dan
eter (Farmakope Indonesia, 1979).
Nistatin
adalah suatu antimikotik golongan polien, yang telah diisolasi dari Streptomyces naursei pada
tahun 1949 dan bersifat fungisidal.
Sebagai obat pertama
yang
dipasarkan, maka nistatin paling banyak dipakai dan dianggap obat pilihan untuk
kandida (Irianto, 2013:75).
Mekanisme kerja obat nistatin adalah melalui
pengikatan diri pada zat-zat srerol di dinding sel jamur yang mengakibatkan
kerusakan membran sel dan peningkatan permeabilitasnya sehingga komponen yang
penting untuk kehidupan sel keluar dan akhirnya sel-sel tersebut mati. Efek
samping nistatin pada penggunaan oral berupa mual dan muntah. Zat ini dapat digunakan pada waktu hamil (Tjay dan
Rahardja, 2007:103)
F.
Simplisia
Istilah
simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam
wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Simplisia adalah bahan
alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun,
dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan (Departemen Kesehatan RI, 2000:3).
Daun
merupakan bagian tanaman yang dapat dibuat sediaan simplisia. Pembuatan
simplisia daun diawali dengan cara pengumpulan bahan baku atau panen yang
dilakukan pada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai
dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk
pengambilan pucuk daun, dianjurkan dipetik pada saat warna pucuk daun berubah
menjadi daun tua. Cara pengeringannya diusahakan agar menghindari penguapan
terlalu cepat dengan cara menjemur di bawah matahari secara tidak langsung atau
ditutup dengan kain hitam (Gunawan dan
Mulyani, 2004:11)
Faktor-
faktor yang mempengaruhi pengeringan antara lain :
1. Waktu
pengeringan
2. Sirkulasi
udara
3. Ketebalan
bahan yang digunakan
4. Luas
permukaan bahan, semakin luas permukaan bahan semakin mudah kering
5. Kelembaban
udara disekitarnya dan kelembaban bahan atau kandungan air dari bahan baku
6. Suhu
pengeringan, semakin tinggi suhunya semakin cepat kering, tetapi harus
dipertimbangkan daya tahan kandungan zat aktif di dalam sel yang kebanyakan
tidak tahan panas (Gunawan dan Mulyani, 2004:13).
G.
Ekstrak
Ekstrak
merupakan sediaan yang dapat berupa kering,
kental, dan cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut
cara yang sesuai, yaitu maserasi, perkolasi, atau penyeduhan dengan air
mendidih. Pelarut yang biasanya digunakan adalah air, eter, atau campuran
etanol dan air. Ekstraksi dilakukan di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Penyarian
dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi
(Anief, 2010:168-169).
Pembuatan sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang
terdapat di simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi
dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya. Pada dasarnya
ekstrak merupakan sediaan pekat yang mengandung zat berkhasiat dari simplisia
dengan kekuatan 2-5 kali dari yang terkandung dalam simplisia tersebut. Bentuk
sediaan ini merupakan bentuk yang stabil dan dalam jumlah sedikit dapat
menghasilkan daya terapi dan sifat yang dimiliki oleh simplisia yang
bersangkutan (Anief, 2010;
Soelarto, 1990).
Pada pembuatan ekstrak, hasil yang diperoleh dari penyarian
tersebut diuapkan pada suhu tidak lebih dari 50oC pada tekanan
rendah hingga konsistensi tertentu. Dalam hal ini cairan penyari diuapkan
hingga diperoleh hasil yang cair, kental, atau kering. Memekatkan hasil
penyarian perlu dilakukan vakum atau tekanan rendah untuk mencegah penguraian
dan zat berkhasiat (Soelarto,
1990). Metode
ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu :
1. Maserasi
Maserasi adalah
salah satu cara penarikan zat aktif pada sediaan simplisia yang dilakukan
dengan cara perendaman pada cairan pelarut yang sesuai didiamkan pada suhu 15oC-25oC
selama beberapa hari.
Berikut
langkah-langkah kerja maserasi :
a)
Masukkan
10 bagian simplisia ke dalam bejana/ beaker glass
b)
Masukkan
cairan penyari yang cocok sebanyak 75 bagian kedalam
bejana, tutup dengan alumunium foil
bejana, tutup dengan alumunium foil
c)
Diamkan
selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk dengan batang pengaduk
d)
Lalu
diserkai, diperas, disaring, ampas dicuci dengan cairan penyari secukupnya
hingga diperoleh 100 bagian .
e)
Maserat
dipindahkan ke dalam bejana/beaker glass, ditutup dengan alumunium foil (dilubangi), biarkan ditempat sejuk dan
diuapkan selama 2 hari ( Anief,Moh.
2000: 169 ).
2. Perkolasi
Perkolasi
adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya
dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan
bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan
ekstrak), terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5
kali bahan (Departemen Kesehatan, 1995:11).
H.
Kerangka
Teori
|
Efek antimikotika
|
|
Jamur Candida albicans
|
|
Keputihan
|
|
obat tradisional
|
|
Obat sintetik
|
|
Nistatin
|
|
Ekstrak etanol daun sukun
|
Gambar 4. Diagram Kerangka
Teori
I.
Kerangka
Konsep
|
Ekstrak
Etanol Daun sukun (Artocarpus altilis) dengan konsentrasi 0,2%,
0,4%, 0,6%, 0,8%,
1%
|
|
Daya hambat ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) terhadap pertumbuhn
jamur Candida albicans
|
Variabel
Bebas Variabel Terikat
K . Definisi Operasional
Gambar 5. Kerangka konsep
J.
Definisi Operasional
Tabel 1
Definisi
Operasional
No
|
Variable
|
Definisi
|
Alat
Ukur
|
Cara
Ukur
|
Hasil
Ukur
|
Skala
|
1.
|
Variabel bebas: konsentrasi
ekstrak
etanol daun sukun (Artocarpus altilis)
|
Ekstrak
etanol daun sukun
didapatkan dari proses maserasi berupa konsentrasi 100% kemudian dilakukan seri konsentrasi menjadi
0,2%, 0,4%, 0,6%,
0,8%, 1%
|
Pipet volume,
gelas ukur
|
Konsentrasi 100% dilakukan pengenceran dengan aquadest
dengan rumus:
V1X1=V2X2
|
Ekstrak etanol
daun sukun dengan seri konsentrasi 0,2%, 0,4%,
0,6%, 0,8%, 1%
|
Rasio
|
2.
|
Variabel terikat:
Daya hambat ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) terhadap pertumbuhn jamur Candida
albicans
|
Daya hambat pertumbuhan jamur
Candida albicans dilihat dari diameter zona bening di sekitar disk
|
Jangka sorong
|
Metode difusi
dengan cara Kirby Bauer dengan mengukur zona bening di sekitar disk
|
Zona
hambat yang terbentuk berupa zona bening di sekitar disk yang diukur dalam
milimeter pada media
|
Rasio
|
K.
Hipotesis
Ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altillis) mempunyai daya hambat dan efektif terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab keputihan.
BAB III
METODA PENELITIAN
A.
Rancangan
Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah eksperimen, menggunakan metode difusi agar cara Kirby Bauer, dengan
variabel bebas adalah ekstrak daun
sukun (Artocarpus altilis) dan variabel terikat
adalah kemampuan ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis) dalam menghambat pertumbuhn jamur Candida
albicans. Penelitian dilakukan
sebanyak empat kali pengulangan dengan lima perlakuan.
B.
Subyek Penelitian
Subjek
dalam penelitian ini adalah daun sukun (Artocarpi altilis folium) berwarna hijau tua yang terdapat pada tangkai keempat dari pucuk tangkai
yang diperoleh dari daerah Natar yang
sebelumnya telah dideterminasi di Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Tanjung
Karang.
C.
Tempat dan
Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini akan
dilaksanakan di Balai Laboratorium Kesehatan Bandar Lampung
2. Waktu Penelitian
Penelitian akan
dilaksanakan pada bulan Maret sampai
dengan Juni 2014
D. Pengumpulan Data
1. Pengulangan
(Replikasi)
Besar sampel
pada penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus ulangan (replication),
yaitu :
(t-1) (r-1) ≥ 15
t=
jumlah perlakuan
r
= jumlah ulangan
(t-1)(r-1) ≥15
(7-1)(r-1) ≥15
(6) (r-1) ≥15
(6r-6) ≥15
6r ≥ 21/6
r ≥ 3,5→ 4 (Hanifiah, 2005:6).
2.
Alat
dan Bahan
a. Alat
Autoklaf, inkubator, hot plate, oven, petri disk
besar, tabung reaksi panjang, tabung reaksi pendek, disk cakram steril, pipet volume, pipet ukur,
labu ukur, erlenmeyer, pipet tetes, corong glass, rak tabung, beaker glass,
lampu spritus, kapas, lidi kapas steril, jarum ose, kertas kopi, lap, dan
kertas tempel.
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam
penelitian adalah :
1) Strain
murni Candida albicans yang diperoleh
dari BLK Bandar Lampung
2) Ekstrak
etanol daun sukun (Artocarpus altilis) dengan konsentrasi 0.2%, 0.4%, 0.6%, 0.8%, dan 1%
3) Disk
Nistatin 100 mcg
sebagai kontrol positif
4) Larutan
standar Mac. Farland l.
5) Media
Sabouroud Dextrose Agar (SDA)
6) Larutan
Nacl 0,9%
7) Aquadest
E.
Prosedur
Kerja Penelitian
1. Determinasi Tanaman
Daun sukun akan di determinasi di Politeknik
Kesehatan Kementerian
Kesehatan Tanjung Karang
jurusan Farmasi. Tujuan dari determinasi ini adalah untuk mengidentifikasi daun sukun (Artocarpus altilis) dengan
menetapkan kebenaran sampel daun sukun (Artocarpus altilis)
berkaitan dengan ciri-ciri makroskopis.
2. Sterilisasi Alat dan
Bahan
a.
Sterilisasi dengan
pemanasan kering
1) Dengan
pemijaran
Ose dibakar pada nyala
api spiritus sampai membara.
2) Dengan
pembakaran
Pinset, pisau, gunting,
object glass, mulut tabung dan sebagainya, dilewatkan atau dibakar pada nyala
api spiritus tidak sampai membara.
b. Sterilisasi
dengan pemanasan basah menggunakan
autoklaf
Untuk
memperoleh suhu lebih dari 100˚C digunakan autoclave, dengan tekanan uap lebih
dari 1 atsmosfer. Pemanasan dilakukan pada 121˚C 15 -20 menit. Alat yang
disterilkan dengan cara ini adalah tabung gelas ukur, reaksi, corong, beaker
glass, pipet volume, semua alat itu dibungkus dengan kertas kopi. Untuk kapas, kain, parut, kertas tisu, lidi, kertas
saring, rak tabung reaksi,pipet tetes dimasukan dalam kertas kantong yang
terbuat dari kertas kopi. Untuk semua media tutup rapat, masukan
beserta wadahnya ke dalam autoclave beserta alat-alat lainnya (Soemarno,
2000:11)
3.
Pembuatan
Larutan Uji
a. Disiapkan
alat dan bahan yang diperlukan.
b. Dilakukan
proses pembuatan simplisia
1)
Dikumpulan daun sukun yg telah memenuhi kriteria
2)
Kemudian dicuci bersih
dengan air mengalir sebanyak 3 kali untuk membersihkan kotoran yang melekat.
3)
Mengeringkan
daun sukun di bawah sinar matahari secara tidak
langsung menggunakan wadah
yang memiliki luas permukaan yang lebar dan diberi alas karton kemudian ditutup
dengan kain hitam. Dimaksudkan untuk mengurangi penguapan.
4)
Proses pengeringan di bawah sinar matahari berlangsung selama 5 hari. Kemudian sortir simplisia yg kualitas bagus dengan
kualitas rusak. Simplisia yang sudah kering disimpan
dalam plastik untuk menghindarkan simplisia dari cemaran mikroba, kotoran,
serta serangga (Gunawan, 2004:11-14).
c.
Dilakukan proses
pembuatan ekstrak
1) Dimasukkan
10 bagian simlpisia daun sukun dalam
beaker glass 1000 ml.
2) Ditambahkan
etanol 70% hingga terisi 75 bagian dalam beaker, ditutup dengan
alumunium foil.
3) Didiamkan
selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk dengan batang
pengaduk .
4) Kemudian
disaring
dan dipisahkan hasil saringan ( maserat 1) , lalu ampas direndam kembali
dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian
5) Kemudian
ditutup alumunium foil, selama 2 hari sambil sesekali diaduk
6) Kemudian
disaring, kembali (maserat 2) lalu hasil saringan dijadikan satu dengan maserat awal (dianggap ekstrak 100% untuk perlakuan selanjutnya ) diuapkan pada suhu 50 C hingga larutan etanol
menguap.
7) Didapatkan ekstrak kental dianggap sebagai konsentrasi
100%.
8) Kemudian diencerkan untuk memperoleh konsentrasi 1%, 0,8%,
0,6%, 0,4%, 0,2%.
9)
Dengan menggunakan rumus pengenceran
V1
x %1
= V2 x %2
4.
Pembuatan
Media
a.
Pembuatan media Sabuoround Dextrosa Agar ( SDA)
Sesuai
dengan prosedur tetap Balai Laboratorium
Kesehatan Bandar Lampung yaitu :
1) Campurkan
semua komponen medium yaitu peptone 10,0 gram, dextrose 40,0 gram dan agar 10,0
gram.
2) Larutan
dalam suhu liter aquabidest
3) Media
dipanaskan diatas hot plate sampai
larut sempurna
4) Setelah
media larut dan homogen, media disterilisasikan di autoklaf 121 C selama 15 menit
pada tekanan atm.
5) Tuangan
dalam petridisk
steril masing-masing ± 15 ml (tinggi 4 mm) per plate.
b.
Pembuatan
Larutan Standar Mac. Farland 1
1) Membuatan
larutan Mac. Farland dengan cara dicampurkan 0,1 ml BaCl2 1,175 %
2) Kemudian
tambahkan 9,9 ml H2sO4 1 % yang
sebanding dengan perkiraan jumlah jamur sebanyak 300 juta/ml
3) kemudian ditutup rapat supaya tidak terjadi penguapan
dan larutan harus
dikocok setiap akan digunakan untuk
membandingkan suspense jamur (Soemarno, 2000)
c.
Pembuatan
Suspensi Jamur
Diambil satu mata ose jamur Candida albicans dibuat suspensi dengan
menambahkan larutan NaCl 0,85% di dalam tabung, sampai didapatkan kekeruhan
yang disesuaikan dengan standar kekeruhan Mac Farland 1. Jika kurang keruh,
suspensi ditambahkan koloni sedangkan jika lebih keruh ditambahkan NaCl 0,85%
(Soemarno, 2000:117)
5.
Uji
Daya Hambat
a. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
b.
Lidi kapas
steril dimasukkan kedalam tabung yang berisi suspensi jamur yang sudah
distandarisasi kekeruhannya Dibiarkan 5 menit agar
cairan dapat meresap kedalam kapas kemudian diangkat dan ditekan pada dinding
tabung sambil diputar.
c.
Lidi kapas steril
tersebut dipulaskan pada permukaan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) sampai
seluruh permukaan tertutup rapat dengan pulasan.
d.
Sabouraud Dextrose Agar
(SDA) didiamkan di atas meja selama 5-15
menit sehingga suspensi jamur menyerap ke dalam agar.
e.
Disk direndam dengan
larutan uji selama 15 menit pada konsentrasi 0.2%, 0.4%,
0.6%, 0.8%, 1%. Setelah 15 menit,
disk diambil dengan pinset steril dan ditempelkan di atas media Sabouraud
Dextrose Agar (SDA) yang telah dilakukan pemulasan suspensi jamur dan diberi
jarak 15 mm antar disk.
f.
Kontrol
negatif dan kontrol positif diambil dengan pinset steril dan diletakkan di atas media Sabouraud
Dextrose Agar (SDA)
g.
Media Sabouraud
Dextrose Agar (SDA) yang sudah ada disk obat diinkubasi pada suhu 370C
selama 48 jam.
h.
Setelah
diinkubasi, daerah bening yang terbrntuk disekitar disk di ukur diameternya
sebagai diameter daya hambat ekstrak etanol daun sukun terhadap pertumbuhan
jamur Candida albicans
i.
Prosedur
dilakukan sebanyak empat kali pengulangan (Soemarno, 2000:117-118).
F.
Alur
Penelitian
|
Persiapan sampel (pengambilan dan pembuatan simplisia)
|
|
Dibuat seri pengenceran 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,8%, 1%
|
|
Ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus
altilis)
|
|
Pembuatan suspensi jamur Candida albicans
|
|
Strain murni Candida albicans
|
|
Aquadest steril (kontrol negatif) dan nistatin 100 mcg (kontrol positif)
|
|
Inkubasi 37°C selama 48 jam
|
|
Penempatan disk obat pada media SDA
|
|
Pembuatan disk dengan berbagai
konsentrasi
|
|
Penanaman jamur pada media SDA
|
|
Pengukuran diameter zona hambat (mm)
|
|
Pengumpulan data hasil penelitian
|
|
Pengolahan data dan analisis data
|
|
Kesimpulan
|
Gambar 6. Bagan alur penelitian
G.
Pengelolaan Data
Data
diperoleh dengan cara mengamati ada atau tidaknya pertumbuhan jamur disekitar disk yang
ditandai dengan adanya zona kejernihan dan dilanjutkan pengukuran diameter zona
hambatan yang terbentuk menggunakan alat ukur dalam satuan mm melalui diameter
disk obat.
Data-data
hasil pengujian disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Diameter
zona hambat ekstrak daun sukun terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans
Pengulangan
|
Diameter zona hambat ekstrak daun sukun
terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans
|
kontrol
|
|||||
0,2%
(mm)
|
0,4%
(mm)
|
0,6%
(mm)
|
0.8%
(mm)
|
1%
(mm)
|
(+)
nistatin 100µmg
(mm)
|
(-)
aquadest steril
(mm)
|
|
I
|
|||||||
II
|
|||||||
III
|
|||||||
IV
|
|||||||
Jumlah
|
|||||||
Rata-rata
|
|||||||
Larutan
uji dikatakan menghambat jika terdapat zona hambat di sekitar disk, larutan uji dikatakan tidak
menghambat jika tidak terdapat zona hambat di sekitar disk dan larutan uji dikatakan
efektif jika diameter zona hambat ≥
diameter zona hambat larutan pembanding
nistatin 100mcg, serta larutan uji dikatakan tidak efektif
jika zona hambat < diameter larutan pembanding nistatin 100 mcg
H.
Analisis data
Analisa
data yang diguanakan adalah bivariat
yang meruapakn analisa yang dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan dan berkorelasi (Notoatmodjo, 2005). Data-data
hasil pengujian disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisa dengan analisis
of varian (ANOVA). Apabila terdapat beda nyata (F hitung lebih besar dari F
tabel), maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata (BNT) pada taraf kepercayaan
95%.